Megadeth dan Album Terakhirnya: Cara Pamit yang Nggak Setengah-Setengah
Belakangan ini, satu kabar beredar cukup kencang di dunia metal: Megadeth disebut akan merilis album terakhir mereka berjudul Megadeth, dijadwalkan rilis 23 Januari 2026. Album ini digambarkan sebagai rilis studio ke-17 sekaligus penutup perjalanan band yang sudah berjalan lebih dari empat dekade.
Bukan bocoran sembarangan, informasi ini sudah muncul di berbagai media musik dan toko pre-order. Artinya, ini bukan sekadar gosip forum.
Gimana Arah Musiknya?
Kalau dilihat dari materi yang sudah diperkenalkan ke publik, album ini nggak terdengar seperti band yang kehabisan tenaga. Ada track seperti “Tipping Point” yang masih kental dengan riff cepat dan solo teknikal khas Megadeth. Thrash metal klasik tetap jadi fondasi, tapi nuansanya terasa lebih reflektif. Kayak band yang tahu ini mungkin halaman terakhir.
Yang paling banyak dibicarakan tentu versi ulang “Ride the Lightning”. Lagu ini punya nilai simbolis besar karena Dave Mustaine ikut menulisnya di era awal Metallica. Masuknya lagu ini terasa seperti lingkaran yang akhirnya tertutup.
Kenapa Disebut Album Terakhir?
Alasannya sebenarnya sederhana dan manusiawi: usia dan waktu.
Megadeth berdiri sejak 1983, dan Dave Mustaine adalah satu-satunya anggota yang bertahan dari awal sampai sekarang. Setelah puluhan tahun tur, gonta-ganti formasi, konflik, penyakit, dan comeback, keputusan untuk berhenti di momen yang dipilih sendiri terdengar masuk akal.
Banyak laporan juga menyebut album ini akan diikuti tur perpisahan global, bukan sebagai tanda kelelahan, tapi sebagai penutup yang disengaja.
Total Album Megadeth
Kalau album ini benar-benar jadi rilis terakhir, maka katalog Megadeth akan berhenti di angka 17 album studio. Dari Killing Is My Business… sampai The Sick, The Dying… and the Dead! (2022), dan akhirnya ditutup dengan album yang menyandang nama band itu sendiri.
Nama yang sama dengan bandnya. Simpel. Final.
Penutup
Kalau ini benar-benar album terakhir Megadeth, maka mereka memilih cara pamit yang tepat:
bukan pelan-pelan menghilang, bukan dipaksa berhenti, tapi menutup karier dengan album yang sadar diri dan penuh sejarah.
Dan jujur saja, buat band sebesar Megadeth, itu terdengar jauh lebih terhormat daripada berpura-pura abadi.